Pengertian cerpen

Ciri-ciri cerpen
- Memiliki halaman antara 3-10 halaman(tidak setebal novel)
- Kata yang dipakai tidak lebih dari 10.000 kata
- Isi cerita berasal dari kehidupan sehari-hari
- Bersifat fiktif.
- Hanya mempunyai satu alur saja.
- Menggunakan kata-kata yang mudah dipahami
- Penokohan dalam cerpen lebih sederhana
- Kesan dan pesan yang ditinggalkan sangat mendalam sehingga pembaca merasakan isi dari cerita pendek tersebut.
Struktur Cerpen
1. Abstrak
Merupakan ringkasan dari sebuah cerita. Abstark merupakan inti dari cerita yang kemudian dikembangkan menjadi beberapa rangkaian kejadian. Abstrak juga bisa disebut gambaran awal dalan cerita. Abstrak memiliki sifat opsional yang mana kita boleh tidak untuk menggunakan struktur yang abstrak tersebut.
2. Orientasi
Merupakan hal-hal yang berhubungan dengan tempat, waktu, dan suasana yang terdapat dalam cerita. Biasanya orientasi tidak hanya berfokus pada suatu tempat, waktu, ataupun suasana. Karena di dalam cerita banyak terjadi peristiwa dan kejadian yang berbeda-beda.
3. Komplikasi
Merupakan rangkaian kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang berhubungan dan bercerita tentang sebab akibat kejadian sebuah cerita. Dalam struktur ini bisa ditentukan karakter atau watak dari tokoh cerita. Karakter atau watak dari cerita. Karakter atau watak dari tokoh bisa muncul karena sulitnya permasalahan yang mulai meningkat.
4. Evaluasi
Struktur dari konflik-konflik yang terjadi dalam cerita yang arahnya ketitik klimaks atau puncak permasalahan dan mulai muncul gambaran penyelesaian dari konflik tersebut. Struktur ini merupakan yang sangat penting karena struktur ini menentukan menarik tidaknya cerita.
5. Resolusi
Merupakan penyelesaian dari evaluasi. Resolusi biasanya sangat dinanti-nantikan oleh pembaca, terlebih pembaca yang sudah penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Pada struktur ini penulis memberikan solusi tentang masalah yang di alami oleh tokoh dalam cerita.
6. Koda
Merupakan pelajaran atau nilai yang bisa diambil dari cerita. Koda juga berarti suatu hikmah yang terkandung di dalam cerita. Koda bisa diketahui setelah pembaca membaca semua cerita yakni dari awal hingga akhir cerita. Koda berupa nasehat, amanat, pesan, atau berupa peringatan dari penulis untuk pembacanya.
Contoh cerpen
Dimampatkan
Jam pembelajaran telah berlangsung 15 menit. Kurang 25 menit memasuki jam pembelajaran ke-dua. Suasana di kelas Dara begitu hening, tiba- tiba terdengar suara dari load speaker kelas.
"Diumumkan kepada seluruh siswa SMK Brantas bahwa jam dimampatkan menjadi 30 menit dan jam terstruktur ditiadakan", kata seorang guru.
Suasana yang tadinya hening seketika menjadi ramai, hingga guru pun memperingatkan untuk diam.
Suasana yang tadinya hening seketika menjadi ramai, hingga guru pun memperingatkan untuk diam.
"Saya tahu kalian sangat senang saat jam dimampatkan, tapi ingat setelah pulang sekolah nanti lagsung pulang ke rumah, jangan buat orang tua kalian risau", kata Pak Fandi.
"Siap, pak!", jawab seluruh siswa.
Jam pembelajaran pun selesai tepat pukul 12.30. Dara pun segera pulang ke rumah.
"Kok pulang cepet?", tanya ibu.
"Iya, jamnya dimampatkan", jawab Dara.
"Oh", jawab ibu Dara.
"Oh", jawab ibu Dara.
Dara segera masuk kamar dan berganti pakaian. Setelahnya, Dara segera ke meja makan untuk makan bersama dengan ibunya. Tiba-tiba terdengar suara dari ruang tamu.
(Tok..tok..tok..)
"Assalamualaikum, assalamualaikum," .
"Iya sebentar", kata ibu Dara. Dan segera membukakan pintu.
"Tante Dara ada?", tanya Cika.
"Ada, kamu samperin aja di meja makan", kata ibu Dara.
"Makasih, tante", kata Cika dan segera menuju ke ruang makan.
"Dar, lo udah selesai belum kalau makan? Cepet Dara!", kata Cika.
"Ada apa sih?, gue baru aja makan!", jawab Dara.
"Deka, itu Deka,,, Deka kecelakaan!", kata Cika".
"Kok bisa? Dimana? Kapan? Trus keadaannya gimana?", tanya Dara panik.
"Aduh.. Yang terpenting lo cepetan, gue aja baru dapat kabar dari Fian", jawab Cika.
"Lo, tunggu di ruang tamu dulu, gue mau ganti baju bentar!", kata Dara.
Dara segera pergi ke kamar dan membiarkan makanannya di meja makan. Setelah selesai ganti baju Dara segera pamitan untuk pergi menjenguk temannya yang kecelakaan.
"Gue bawa motor nggak?" tanya Dara.
"Gak usah nanti gue anterin aja!", jawab Cika.
Diperjalanan ia menghubungi temannya Fian untuk bertanya dimana Deka sekarang.
"Gue bawa motor nggak?" tanya Dara.
"Gak usah nanti gue anterin aja!", jawab Cika.
Diperjalanan ia menghubungi temannya Fian untuk bertanya dimana Deka sekarang.
"Hallo!", kata Dara.
"Hallo, ada apa Dar?", tanya Fian.
"Kamu sekarang dimana? Tau Deka dibawa kemana nggak?", tanya Dara balik.
"Aku di rumah sakit Ramdani Husada cepet kesini, di ruang IGD! Deka dibawa kesini", jawab Fian.
" Oke, gue segera kesana!", jawab Dara.
Dara segera memberitahu letak rumah sakit Ramdani Husada yang tidak jauh dari rumahnya. Sesampainya Dara dan Cika di rumah sakit mereka segera menuju ke ruang IGD. Di sana sudah ada teman-teman sekelas Dara dan orang tua Deka. Dara dan Cika segera menghampiri orang tua Deka.
"Om, Tante, yang sabar ya,,, Dara yakin Deka kuat", kata Dara.
"Makasih Dara, Cika, udah menghibur tante, doakan Deva cepat sadar ya" kata ibu Deka.
"Amin" jawab mereka kompak.
Setelahnya Dara menghampiri Fian.
"Awalnya gimana yan?, kok bisa sih Deka kecelakaan?", tanya Dara pada fian.
"Aku penyebabnya, Dar. Aku yang ngajak Deka untuk ke kafe dulu. Gue salah, gue salah, Dar", jawab Fian.
"Kamu gak usah nyalahin diri sendiri. Ini udah takdir tuhan, Yan. Gue yakin kok kalau Deka bakal sadar", kata Dara pada Fian.
Dalam keadaan seperti itu Fian mungkin sangat terpukul. Untuk itu Dara membiarkannya sendiri untuk sementara waktu.
Setelah beberapa jam Deka masih belum tersadar, mereka pun segera berpamitan kepada orang tua Deka, karena takut orang tua mereka resah. Cika pun mengantarkan Dara sampai ke rumah.
"Gue titip salam ke nyokap lo ya sorry gak bisa mampir, udah sore soalnya!", kata Cika.
"Gampang kok, hati-hati ya, dada.." katak Dara.
Setelah Cika pergi Dara segera masuk rumah. Sesampainya Dara segera masuk kamar dan pergi mandi. Setelah mandi, ia pun segera ke meja makan untuk makan bersama keluarganya.
"Gimana keadaaan teman kamu?", tanya ayah Dara.
"Belum sadar, yah", jawab Dara.
"Semoga temen kamu cepet sembuh, ohl.. Iya besok kan libur, katanya sih Nadya mau kesini besok", kata ibu Dara.
"Kalau gitu, Nadya bisa buat temen jenguk Deka ya bun" kata Dara.
Keesokan harinya Nadya datang pagi-pagi ke rumah. Akupun mengajaknya untuk menjenguk Deva. Sesampainya disana aku segera pergi ke IGD ternyata, Deka sudah tidak di ruangan IGD. Aku segera pergi ke petugas rumah sakit, saat mau ke petugas rumah sakit ada seseorang yang memanggil Dara. Ia pun segera menghampirinya.
"Eh kamu Yan, gue kira tadi siapa panggil- panggil gue, gimana Deka udah sadar belum?", tanya Dara.
"Udah, kamu masuk aja!", jawab Fian.
"Oke!", kata Dara.
Ia pun segera masuk ruangan Deka, disana ia melihat Deka yang tersenyum dengan keadaan yang masih lemas.
"Kamu udah gak apa-apa?, ada bagian yang masih sakit ya?", tanyaku.
"Udah mendingan, itu siapa?", tanya Deka.
"Sepupu aku Nadya, buruan sembuh nanti gue kasih wa nya!", kata Dara meledek.
"Apaan sih", kata Nadya malu.
"Kayaknya gue gak bisa lama-lama ntar gue dimarahi dokter karena kelamaan ngobrol, lagian pasti lo butuh istirahat juga, gue duluan ya", kata Dara.
Deka hanya tersenyum dan mengangguk. Dara pun segera keluar dari ruangan Deka. Ia pun juga berpamitan pada orang tua Deka dan Fian. Setelahnya ia mengajak Nadya ke taman. Disana ia ingin bercerita banyak dengan Nadya.
Sesampainya di taman Dara mencari tempat yang nyaman untuk bicara. Dan mencari es krim karena cuaca yang lumayan panas. Merekapun duduk di bawah pohon beringin sambil memakan es krim.
"Kok, bisa sih temen lo kecelakaan?", tanya Nadya.
"Temenku Deka itu, awalnya diajak sama teman sekelas gue Fian buat ke kafe. Katanya sih, mumpung jam dimampatkan", jawab Dara.
"Dimampatkan? Maksutnya?", tanya Nadya lagi.
"Sama kayak waktu pembelajaran yang didiskon. Jadi, yang awalnya kita satu jam pembelajaran 40 menit di kurangi sesuai keputusan sekolah. Biasa sih 30 menit atau 20 menit", kata Dara.
"Oh.. Gituh, eh,,, kok bisa sih temen kamu kecelakaan?", tanya Nadya.
"Sebenarnya sih,, itu kesalahannya, karena mau bagaimanapun saat jam dimampatkan kita kan dihimbau untuk pulang. Kalau ada apa-apa kasihankan sama orang tua dan sekolah pun udah lepas tangan. Dan setahu aku, dia suka suka ngebut kalau mengendarai motor", jawabku.
"Ceroboh banget sih, nyawa cuma satu juga", lanjutnya.
"Oh,, iya gimana sekolah disana? Asik nggak?", tanya Dara.
"Disana cuma mentingin akademis dan anak yang jujur itu cuma sedikit. Lebih banyak yang mementingkan nilai dari pada kejujuran. Bahkan pamor sekolah yang naik membuat guru mewajibkan untuk bisa berbahasa inggris", jawab Nadya.
"Bukannya bagus kalau semua muridnya bisa berbahasa Inggris?", tanya Dara.
"Mungkin benar yang kamu katakan tetapi, aku nggak suka aja sama peeilaku mereka. Bahkan aku ingin sekolahku bisa seperti sekolahmu seperti yang sering kamu ceritakan", jawab Nadya.
"Kamu benar, Nad! Menurutku dengan penanaman karakter seseorang menjadi lebih kuat itu sangat penting. Mau bagaimana pun kita nantinya yang menjadi penerus bangsa ini!", lanjut Dara.
"Mungkin kamu bisa pada meminta pada sekolahmu untuk ada seorang guru yang kesolahku untuk mengisi tentang karakter, dan aku akan meminta kepada sekolahku untuk memberikan persetujuan", usul Nadya.
"Ide yang bagus, Nad!, Tapi sekarang aku berterima kasih padamu," kata Dara.
"Makasih soal apa?", tanya Nadya.
"Makasih soal udah ngingetin aku, dulunya sih,, aku sering sebel dengan aturan- aturan yang terlalu ketat , tapi kali ini aku tahu kenapa sekolahku begitu ketat dan juga mentingin karakter. Dari situ, aku juga sadar kalau aturan di sekolah itu untuk ditaati. Setelah ini, saat Deka sadar aku mau tahu tentang yang kita bahas tadi. Sebagai pembelajaran untuk dia juga sih,,", jawab Dara.
"Ide bagus Dara, Setidaknya dia tidak mengulangi lagi saat jam dimampatkan", lanjut Nadya.
Setelahnya Dara mengajak Nadya pulang. Dalam perjalanan ia masih membayangkan kata-kata Nadya dan berkata dalam hati.
"Mungkin dengan adanya kecelakaan Deka, aku jadi tahu mematuhi peraturan itu penting. Untuk itu masalah dimampatkan bukan kesalahan guru, tapi kesalahan murid yang tidak mematuhi peraturan dari situ aku juga mendapat pembelajaran yang berarti dari kata dimampatkan.
Dara segera memberitahu letak rumah sakit Ramdani Husada yang tidak jauh dari rumahnya. Sesampainya Dara dan Cika di rumah sakit mereka segera menuju ke ruang IGD. Di sana sudah ada teman-teman sekelas Dara dan orang tua Deka. Dara dan Cika segera menghampiri orang tua Deka.
"Om, Tante, yang sabar ya,,, Dara yakin Deka kuat", kata Dara.
"Makasih Dara, Cika, udah menghibur tante, doakan Deva cepat sadar ya" kata ibu Deka.
"Amin" jawab mereka kompak.
Setelahnya Dara menghampiri Fian.
"Awalnya gimana yan?, kok bisa sih Deka kecelakaan?", tanya Dara pada fian.
"Aku penyebabnya, Dar. Aku yang ngajak Deka untuk ke kafe dulu. Gue salah, gue salah, Dar", jawab Fian.
"Kamu gak usah nyalahin diri sendiri. Ini udah takdir tuhan, Yan. Gue yakin kok kalau Deka bakal sadar", kata Dara pada Fian.
Dalam keadaan seperti itu Fian mungkin sangat terpukul. Untuk itu Dara membiarkannya sendiri untuk sementara waktu.
Setelah beberapa jam Deka masih belum tersadar, mereka pun segera berpamitan kepada orang tua Deka, karena takut orang tua mereka resah. Cika pun mengantarkan Dara sampai ke rumah.
"Gue titip salam ke nyokap lo ya sorry gak bisa mampir, udah sore soalnya!", kata Cika.
"Gampang kok, hati-hati ya, dada.." katak Dara.
Setelah Cika pergi Dara segera masuk rumah. Sesampainya Dara segera masuk kamar dan pergi mandi. Setelah mandi, ia pun segera ke meja makan untuk makan bersama keluarganya.
"Gimana keadaaan teman kamu?", tanya ayah Dara.
"Belum sadar, yah", jawab Dara.
"Semoga temen kamu cepet sembuh, ohl.. Iya besok kan libur, katanya sih Nadya mau kesini besok", kata ibu Dara.
"Kalau gitu, Nadya bisa buat temen jenguk Deka ya bun" kata Dara.
Keesokan harinya Nadya datang pagi-pagi ke rumah. Akupun mengajaknya untuk menjenguk Deva. Sesampainya disana aku segera pergi ke IGD ternyata, Deka sudah tidak di ruangan IGD. Aku segera pergi ke petugas rumah sakit, saat mau ke petugas rumah sakit ada seseorang yang memanggil Dara. Ia pun segera menghampirinya.
"Eh kamu Yan, gue kira tadi siapa panggil- panggil gue, gimana Deka udah sadar belum?", tanya Dara.
"Udah, kamu masuk aja!", jawab Fian.
"Oke!", kata Dara.
Ia pun segera masuk ruangan Deka, disana ia melihat Deka yang tersenyum dengan keadaan yang masih lemas.
"Kamu udah gak apa-apa?, ada bagian yang masih sakit ya?", tanyaku.
"Udah mendingan, itu siapa?", tanya Deka.
"Sepupu aku Nadya, buruan sembuh nanti gue kasih wa nya!", kata Dara meledek.
"Apaan sih", kata Nadya malu.
"Kayaknya gue gak bisa lama-lama ntar gue dimarahi dokter karena kelamaan ngobrol, lagian pasti lo butuh istirahat juga, gue duluan ya", kata Dara.
Deka hanya tersenyum dan mengangguk. Dara pun segera keluar dari ruangan Deka. Ia pun juga berpamitan pada orang tua Deka dan Fian. Setelahnya ia mengajak Nadya ke taman. Disana ia ingin bercerita banyak dengan Nadya.
Sesampainya di taman Dara mencari tempat yang nyaman untuk bicara. Dan mencari es krim karena cuaca yang lumayan panas. Merekapun duduk di bawah pohon beringin sambil memakan es krim.
"Kok, bisa sih temen lo kecelakaan?", tanya Nadya.
"Temenku Deka itu, awalnya diajak sama teman sekelas gue Fian buat ke kafe. Katanya sih, mumpung jam dimampatkan", jawab Dara.
"Dimampatkan? Maksutnya?", tanya Nadya lagi.
"Sama kayak waktu pembelajaran yang didiskon. Jadi, yang awalnya kita satu jam pembelajaran 40 menit di kurangi sesuai keputusan sekolah. Biasa sih 30 menit atau 20 menit", kata Dara.
"Oh.. Gituh, eh,,, kok bisa sih temen kamu kecelakaan?", tanya Nadya.
"Sebenarnya sih,, itu kesalahannya, karena mau bagaimanapun saat jam dimampatkan kita kan dihimbau untuk pulang. Kalau ada apa-apa kasihankan sama orang tua dan sekolah pun udah lepas tangan. Dan setahu aku, dia suka suka ngebut kalau mengendarai motor", jawabku.
"Ceroboh banget sih, nyawa cuma satu juga", lanjutnya.
"Oh,, iya gimana sekolah disana? Asik nggak?", tanya Dara.
"Disana cuma mentingin akademis dan anak yang jujur itu cuma sedikit. Lebih banyak yang mementingkan nilai dari pada kejujuran. Bahkan pamor sekolah yang naik membuat guru mewajibkan untuk bisa berbahasa inggris", jawab Nadya.
"Bukannya bagus kalau semua muridnya bisa berbahasa Inggris?", tanya Dara.
"Mungkin benar yang kamu katakan tetapi, aku nggak suka aja sama peeilaku mereka. Bahkan aku ingin sekolahku bisa seperti sekolahmu seperti yang sering kamu ceritakan", jawab Nadya.
"Kamu benar, Nad! Menurutku dengan penanaman karakter seseorang menjadi lebih kuat itu sangat penting. Mau bagaimana pun kita nantinya yang menjadi penerus bangsa ini!", lanjut Dara.
"Mungkin kamu bisa pada meminta pada sekolahmu untuk ada seorang guru yang kesolahku untuk mengisi tentang karakter, dan aku akan meminta kepada sekolahku untuk memberikan persetujuan", usul Nadya.
"Ide yang bagus, Nad!, Tapi sekarang aku berterima kasih padamu," kata Dara.
"Makasih soal apa?", tanya Nadya.
"Makasih soal udah ngingetin aku, dulunya sih,, aku sering sebel dengan aturan- aturan yang terlalu ketat , tapi kali ini aku tahu kenapa sekolahku begitu ketat dan juga mentingin karakter. Dari situ, aku juga sadar kalau aturan di sekolah itu untuk ditaati. Setelah ini, saat Deka sadar aku mau tahu tentang yang kita bahas tadi. Sebagai pembelajaran untuk dia juga sih,,", jawab Dara.
"Ide bagus Dara, Setidaknya dia tidak mengulangi lagi saat jam dimampatkan", lanjut Nadya.
Setelahnya Dara mengajak Nadya pulang. Dalam perjalanan ia masih membayangkan kata-kata Nadya dan berkata dalam hati.
"Mungkin dengan adanya kecelakaan Deka, aku jadi tahu mematuhi peraturan itu penting. Untuk itu masalah dimampatkan bukan kesalahan guru, tapi kesalahan murid yang tidak mematuhi peraturan dari situ aku juga mendapat pembelajaran yang berarti dari kata dimampatkan.

